<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990343357471394852</id><updated>2011-07-31T05:23:48.327+08:00</updated><category term='Mayela'/><title type='text'>hendhrose</title><subtitle type='html'>Welcome To The Tana Marapu: Sumba Island</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://exovirus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990343357471394852/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://exovirus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hendhrose</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15810133670822860520</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SolM22okooI/AAAAAAAAAAg/DOfmwwC_h2I/S220/5004_1021457957170_1846830236_42338_8168483_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990343357471394852.post-4500079847384306990</id><published>2009-09-02T20:09:00.006+08:00</published><updated>2009-11-06T18:38:30.822+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mayela'/><title type='text'>Ai Mayela (Pohon Mayela)</title><content type='html'>AI MAYEALA (POHON MAYEALA)&lt;br /&gt;Di Ekosistem Prai Pitting&lt;br /&gt;Nenek moyong orang Sumba sejak dahulu    mengenal   satu jenis kayu yang tergolong sangat kuat  untuk bahan tiang utama dalam membangun rumah  adat. Jenis kayu tersebut menurut dialek bahasa Wanukaka   dikenal dengan nama Mayeala, dan  untuk daerah-daerah lain di Sumba menurut David Mitchell (2009) menyebutnya  dengan nama: mayela (Kambera, Anakalang), mazela (Weiwewa), maghela (Kodi).  Menurut David Mitchell (2009)   bahwa meyela termasuk kayu most prestigious bagi  orang Sumba dan dibedakannya  atas tiga variates, yaitu:  mayela taramanu (with spikes on its trunk), mayela karara (has lobate leaves like bredfruit = karara) dan mayela naga ( has oval leaves like jackfruit = naga). Sejak dahulu  pula bahwa orang Sumba  mengenal mayeala   sebagai jenis pohon   langka (jarang) tumbuhnya, termasuk di dalam kawasan-kawasan  hutan besar,   hal ini  tercermin dalam ungkapan-ungkapan bahasa adat sebagai berikut: &lt;span class=fullpost&gt;&lt;br /&gt;mayeala tubu dona, &lt;br /&gt;kapaka jaji meaha&lt;br /&gt;  artinya : pohon mayeala tumbuh sendirian,&lt;br /&gt;     pohon kapaka jadi tunggal.&lt;br /&gt; Ada pula satu  ungkapan lain  dalam bahasa Sumba (Wanukaka) terkait  kayu mayeala sebagai bahan tiang  dalam membangun rumah adat Sumba sebagai berikut:&lt;br /&gt;bora ai mayeala,&lt;br /&gt;  bangi ai kawihu&lt;br /&gt;   artinya: bora (nama laki-laki) sebagai simbol  dari 2 tiang kayu&lt;br /&gt; mayeala dari 4 tiang utama pada rumah adat&lt;br /&gt;     bangi (nama perempuan) sebagai simbol  dari  2 tiang kayu&lt;br /&gt; kawihu dari 4 tiang utama pada rumah adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti  apakah jenis kayu tersebut juga tumbuh  di daerah-daerah lain di Indonesia atau negara lain di dunia, termasuk  nama latin   sudah tersedia atau tidak.  Namun di balik sekelumit ulasan tentang kelangkaan dan keunikan kayu mayeala tersebut di atas,  ada    fakta  yang disaksikan penulis  bahwa pada ekosistem kecil di Prai Pitting  pada saat ini  sekitar puluhan  pohon mayeala tumbuh dan terus berkembang biak secara alamiah. Berdasarkan fakta   tersebut, maka  dapat  dikatakan bahwa salah satu contoh habitat alamiah yang ideal bagi mayeala ada di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini   bertujuan untuk mengulas mayeala dari aspek-aspek :  ciri-ciri botani,  sejarah tumbuh dan distribusinya di dalam ekosistem (Ekosistem Prai Pitting), ancaman dan rekomendasi pengelolaannya untuk anak cucu pada masa mendatang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri botani pohon mayeala  tersebut digambarkan sebagai   berikut: &lt;br /&gt;- Akar    tunggang serupa akar pohon nangka&lt;br /&gt;- Batang dan cabang serupa batang/ cabang pohon nangka, tetapi memilik  kulit batang agak lebih gelap (cenderung agak hitam)&lt;br /&gt;- Kulit batang memiliki getah berwarna putih,  serupa getah pada pohon nangka&lt;br /&gt;- Daun: ukuran daun hampir sama dengan ukuran daun nangka tetapi  pada bagian ujung daun agak lancip meruncing, warna daun hijau tua (sedikit lebih gelap /hitam dibandingkan dengan daun nangka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SqyvD9UXPNI/AAAAAAAAAEw/M_OmJ8t_soc/s1600-h/27112008179346.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SqyvD9UXPNI/AAAAAAAAAEw/M_OmJ8t_soc/s320/27112008179346.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380868137335340242" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;                                 Daun dan Buah Mayeala ( difoto pada tanggal 12-12-2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buah:&lt;br /&gt;  Buah mayela berukuran relatif kecil,    hanya sebesar  bakal buah nangka yang&lt;br /&gt;   masih kecil (panjang sekitar 3-5 cm). Di dalam setiap buah matang terdapat &lt;br /&gt;   sekitar 1-3 biji  yang   berukuran sebesar biji kacang tanah. Sejak buah masih &lt;br /&gt;   kecil hingga matang  warna kekuning-kuningan, daging buah matang banyak &lt;br /&gt;   mengandung air,  terasa sangat   empuk dan mudah rusak. Buah mayeala matang &lt;br /&gt;   sangat disukai  untuk  dimakan oleh berbagai jenis burung antara lain:  kelelawar, &lt;br /&gt;   burung dara,  kakatua, nuri. Musim berbuah sekitar bulan Oktober - Desember  ?? &lt;br /&gt;   setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SqyvlLw0SoI/AAAAAAAAAE4/TAMpPyremI0/s1600-h/271120081791.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SqyvlLw0SoI/AAAAAAAAAE4/TAMpPyremI0/s320/271120081791.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380868708148464258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ai  Mayeala ( difoto pada tanggal 12-12-2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kayu: &lt;br /&gt;   Khususnya  kayu pada  bagian teras batang awalnya berwarna kekuning-kuningan &lt;br /&gt;   (serupa  warna  teras kayu nangka atau warna umbi tanaman   kunyit) tetapi  pada&lt;br /&gt;   saat selanjutnya warna kuning tersebut  berubah menjadi hitam legam.   Sifat lain&lt;br /&gt;   dari teras kayu mayeala yang cukup dikenal adalah    licin, tampak mengkilap dan&lt;br /&gt;   sukar lapuk,  termasuk bagian batang  dari tiang rumah adat yang  ditanam di &lt;br /&gt;   dalam tanah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sejarah Kampung Prai Pitting perlu diuaraikan karena terkait sebagai habitat atau ekosistem mayeala yang diangkat dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;Adapun Kampung Prai Pitting dimaksud pada awalnya merupakan kampung kebun dari nenek moyang 2 kabihu  yang mendiami kampung sekarang ini, yaitu Kabihu  Wei Wuli dan Kabihu Weina Tuna. Diperkirakan   sudah sekitar 9 - 10 generasi yang mendiami kampung ini.  Dituturkan secara turun-temurun bahwa   ekosistem Prai Pitting pada awalnya  dulu adalah milik  kabisu Wei Wuli, tetapi pada saat kemudian     nenek moyang Waina Tuna   lebih awal  menjamah dan bermukim di tempat ini dan terjadi transaksi pembagian lahan anatara nenek moyang kedua kabisu tersebut.  Kawasan lahan    pada   bagian barat menjadi bagian kabisu Weina Tuna   sedangkan  kawasan bahagian timur  menjadi  milik kabisu Wei Wuli. Ada  beberapa  pohon kelapa berumur cukup tua yang masih disaksikan oleh penulis pada sekitar tahun 1970-an – awal tahun 1980-an,  dimana  pohon kelapa tersebut diperkirakan adalah seusia dengan awal pertama bermukimnya nenek moyang di tempat ini.&lt;br /&gt;Kisah sejarah nenek  moyong kabisu Weina Tuna khususnya, sebelum menetap di Prai Pitting    bahwa awalnya mereka    termasuk cukup mengembara dalam mencari  lahan pertanian dan pemukiman yang   ideal bagi mereka. Hal ini adalah seiring dengan bertambahnya anggota keluarga dan tuntutan kebutuhan   pangan dan papan yang   terjadi di kampng besar  di Weina Tuna    pada waktu itu. Awal mulanya    mereka     berkebun di Lahi Dakawuku dan Hoba Komih/Pahangu Ladi. Kemudian mereka berkebun dan membangun pemukiman di Tei Raa untuk selama kurun waktu yang  retatif lama, selanjutnya mereka  mengungsi di Hoba  karena di Tei Raa mereka sangat terancam oleh serangan  orang Lamboya yang melemparkan  batu  dan menggulingkan batu-batu berukuran besar dari atas puncak bukit Lahi Moru/Pangadu Wallu. Saat itu adalah masa kolonialisme Belanda dimana sedang  berkecamuknya   perang antar suku,  antara orang Wanukaka dengan orang Lamboya (penggal kepala).   Selanjutnya di  Hoba  pun mereka tak   lama tinggal   karena     di   tempat   ini  ternyata sangat dekat dengan  sebuah danau kecil (hoba)   yang sering mengakibatkan   tenggelam dan matinya   berbagai hewan peliharaan   (ayam dan babi) mereka. &lt;br /&gt;Akhirnya  mereka berpindah lagi di sutau tempat dimana sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Prai Pitting.  Adapun aktivitas awal yang dilakukan nenek moyang pada saat awal pembukaan lahan dan pembangunan  pemukiman di Prai Pitting    adalah   membabat hutan/rumpun bambu betun (pitting) yang saat itu tumbuh  sangat rimbun.  Dari  kisah sejarah hutan bambu (pitting) inilah sehingga   nama Prai Pitting diwariskan  sampai saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1950-an di dalam ekosistem Prai Pitting  telah ada suatu areal hutan kecil, yaitu  di Lahi Wora ( sekitar  200 m dari Kampung Prai Pitting) dimana di dalamnya    terdapat  sejumlah kecil  pohon mayeala    di antara pepohonan da semak. Lahan tempat tumbuh mayeala tersebut tergolong tidak subur (lahan berlereng curam dan jenis tanah berbatu)  sehingga pertumbuhan dan perkembangannya hampir tidak berarti dan  selama itu pula hampir tak ada  pohon mayeala yang cukup besar   untuk   dapat digunakan dalam membangun rumah. Kawasan hutan kecil tersebut selama itu retatif tak terjamah oleh aktivitas manusia, hewan peliharaan  dan relatif aman dari kebakaran (lokasinya lihat peta). Kuat dugaan bahwa  pohon-pohon  mayeala yang       tumbuh dan berkembang pada beberapa titik areal lahan   dalam ekosistem Prai Pitting pada saat ini  sumber bernihnya tidak lain  adalah berasal dari mayeala di hutan kecil Lahi Wora tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar tahun 1960-an, penulis saksikan sendiri bahwa  untuk pertama kalinya ada  2 (dua) anakan pohon mayeala   yang tumbuh (secara alami) di luar kawasan hutan kecil Lahi Wora,   jarak lahan tempat tumbuh tersebut  sekitar 1 km dari Lahi Wora tersebut. Tepatnya adalah di dalam lahan   Kaliwo (kebun campuran dengan jenis   tanaman dominan pada saat itu adalah : kelapa, sirih, pinang, aur/tamiang, pohon sukun, mangga, sebatang pohon beringin besar  dan pepohan lainnya)   di Tei Raa,   atau berjarak sekitar 500 m dari kampung Prai Pitting.  Dalam waktu relatif bersamaan itu pula satu  anakan meyeala lainnya tumbuh di satu titik  lahan lainnya (sekitar 20 m dari kampung Prai Pitting atau  200 dari hutan kecil Lahi Wora).  &lt;br /&gt;Kaliwu di Tei Raa khususnya termasuk lahan yang  cukup memiliki sumber  air (air permukaan),   terdapat mata air kecil yang mengairi  sebahagian besar  permukaan lahan kaliwu tersebut. Pada  sekitar   tahun 1970-an – 1980-an beberapa pohon sukun besar yang ada di kaliwu pada saat itu  dipotong, sedangkan  tanaman pinang, sirih dan pohon kelapa tetap terpelihara seperti biasanya,   termasuk anakan mayeala yang  baru bertumbuh. Dalam waktu relatif bersamaan tanaman tamiang   yang sebelumnya tumbuh cukup  rimbun lambat-laun terhambat pertumbuhannya akibat dipotong berlebihan oleh penduduk.&lt;br /&gt;Adapun   pertumbuhan dan perkembangan anakan pohon mayeala   selama itu   berlangsung cukup alamiah, di samping ada campur tangan manusia dalam hal  menyiangi tumbuhan-tumbuhan pengganggu,  mengawasinya dari gannguan ternak  dan menghindari  kebakaran.   Seiring perjalanan waktu,  lambat-laun pohon mayeala tersebut menjadi bertambah besar, dan  pada  sekitar    tahun 1980-an    anakan-anakan  mayeala tadi terus tumbuh dan  bertambah  banyak    hingga sekarang ini. Populasi pohon mayeala di Kaliwu Tei Raa sekarang ini     cenderung  dominan   dibandingkan dengan jenis tanaman lain seperti pohon  pinang dan kelapa. Diperkirakan    terdapat  sekitar puluhan  anakan dan puluhan pohon cukup besar (sebesar batang kelapa) dengan tinggi sekitar  20 m. Titik-titik lokasi tumbuh pun cukup  terpencar di   dalam kawasan ekosistem tersebut (lihat peta).&lt;br /&gt;Seiring perjalanan waktu yang cukup panjang, tiga  pohon mayeala  yang tumbuh pertama seperti disebutkan  di atas (umur pohon sekitar 50 tahun) telah dipotong   untuk kebutuhan membangun rumah, yaitu  satu pohon di Tei Raa   dipotong pada tahun 1990-an    dan 2 pohon lainnya dipotong pada tahun 2006 untuk pembangunan rumah besar di Pantai. Tinggi pohon pada saat dipotong adalah sekitar 20 meter  dengan diameter batang sekitar 60 cm. Dari setiap batang pohon   tersebut diperoleh sebatang tiang  teras kayu keras (setelah batang kayu bagian luar atau floem dikeluarkan) berdiameter sekitar 35 cm,    berwarna hitam dan licin,  dimana tiang tersebut oleh penduduk dianggapnya  sangat  cocok dan sangat kuat untuk pembangunan rumah adat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ekosistem Prai Pitting terletak di dusun Puli desa Waihura, Kecamatan Wanukaka,  Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Adapun batas-batasnya sebagai berikut: di bagian utara dan bagian barat berbatasan dengan wilayah desa Pohola, di bagian selatan dan bagian timur berbatasan dengan lahan  milik warga lain dalam dusun Puli. Jarak lokasi dari pantai Wanukaka melalui jalan pintas (jalan kaki) sekitar satu km, atau melalui ruas jalan pengerasan yang melewati   kampung Puli berjarak sekitar 2 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim hujan November- Maret dan musim kemarau April- Oktober. Curah hujan 1500 mm per tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan ekosistem Prai Pitting   didominasi  oleh  lereng  bukit/ bahkan tebing. Tinggi tempat dari permukaan laut sekitar 20-60 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Ada beberapa sumber  air untuk memenuhi kebutuhan minum dan pertanian bagi   penduduk, mata air  Lahi Wora (debit kecil dan mati pada puncak kemarau), mata air Lolu Watu ( debit cukup besar dan tahan pada kemarau) dan kali Lahi Mareki.    Kebutuhan air untuk  beberapa lokasi  lahan kaliwu relatif  terpenuhi karena sejak dahulu telah tersedia    selokan  air irigasi  yang dibangun secara tradisional oleh nenek moyang. Letak mata air dan pola aliran kali tampak pada peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis tanah yang dominan dalam ekosistem Prai Pitting adalah tanah berkapur (limestone)  dan sedikit bobonaro clay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ekosistem Prai Pitting yang diutarakan dalam konsep ini pada dasarnya  bukanlah sebuah sistem yang terpisah dari lingkungan sekitarnya, tetapi merupakan bagian subsistem dalam hirarki sistem yang lebih luas.   Konsep tentang batasan ruang dimaksud semata hanya didasarkan  pada lokasi tumbuhnya pohon mayeala   pada saat ini. Konsep  batasan sistem di sini lebih bertujuan untuk mudah  memahami karakteristik atau sifat-sifat dari  sistem tersebut. Berdasarkan batasan ruang dalam sistem ini (peta),   pemelik  lahan adalah : &lt;br /&gt; Lodu Boru (Kabisu Weina Tuna), Tuangu Talu dan Tuangu Hudi (kabisu Wei Wuli), warga kampung Prai Hoba, warga kampung Prai Odi, warga   desa Pahola,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataguna Lahan &lt;br /&gt;1. Kampung&lt;br /&gt;2. Tempat-tempat Ritual Marapu (4 titik tempat di Tei Raa, di gua Panga Wallu dan di kampung Prai Pitting)&lt;br /&gt;3. Jalan &lt;br /&gt;4. Mata air&lt;br /&gt;5. Kali/sungai/salurann air irigasi&lt;br /&gt;6. Air terjun ( Lahi Mareki/Lahi Moru dan  Loku Pedang)&lt;br /&gt;7. Ladang &lt;br /&gt;8. Kaliwu&lt;br /&gt;9. Sawah Tei Raa&lt;br /&gt;10. Lahan konsentrasi tumbuh pohon Mayeala&lt;br /&gt;11. Gua (di Pangadu Wallu)&lt;br /&gt;12. Flora langka lain&lt;br /&gt;- pohon: kalaitunu, pitting, laung, halou, langira,&lt;br /&gt;- tumbuhan melata: rotan, kata, manini, panetang, lolu kobir,&lt;br /&gt;-  umbi-umbian:  lutang, luwa, katilar, owi, kabota nahu)&lt;br /&gt;13. Fauna langka:  ular kaboku, ayam hutan, kaloiki, rawa tana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi Dominan&lt;br /&gt;.Vegetasi dominan di ladang: jagung, ubi kayu, talas, gembili, nenas&lt;br /&gt;. Vegetasi dominan di kaliwu: kelapa, pinang, sirih, bambu, kalai tunu, &lt;br /&gt;          Mahoni, mayeala, pisang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi dominan di sawah: padi&lt;br /&gt;Vegetasi dominan di hutan belukar: gembili hutan, kusambi, lamtoro, &lt;br /&gt;Ancaman potensial pada masa mendatang antara lain:&lt;br /&gt;- Aktivitas penduduk&lt;br /&gt;- Hewan ternak&lt;br /&gt;- Kebakaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi Pengelolaan dan Wasiat untuk Anak Cucu&lt;br /&gt;Sesuai pengalaman masa lampau dan kenyataan saat ini, maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Hindari ancaman-ancaman dari manusia (over eksploitasi, salah urus/salah kelola), oleh  hewan dan kebakaran&lt;br /&gt;2. Perlu ada pendidikan / penyuluhan kepada masyarakat dalam memelihara lingkungan hidup.&lt;br /&gt;3. Perlu pelu pengawasan lebih intensif dan pembatasan kunjungan di lokasi &lt;br /&gt;4. Perlu ada  alternatif sumber  pendapatan bagi penduduk &lt;br /&gt;5. Tersedia  dokumen tertulis:  Wasiat untuk Anak Cucu tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Ai Mayeala (Terlampir)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990343357471394852-4500079847384306990?l=exovirus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://exovirus.blogspot.com/feeds/4500079847384306990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://exovirus.blogspot.com/2009/09/ai-mayela-pohon-mayela.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990343357471394852/posts/default/4500079847384306990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990343357471394852/posts/default/4500079847384306990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://exovirus.blogspot.com/2009/09/ai-mayela-pohon-mayela.html' title='Ai Mayela (Pohon Mayela)'/><author><name>Hendhrose</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15810133670822860520</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SolM22okooI/AAAAAAAAAAg/DOfmwwC_h2I/S220/5004_1021457957170_1846830236_42338_8168483_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Afzccssz2g4/SqyvD9UXPNI/AAAAAAAAAEw/M_OmJ8t_soc/s72-c/27112008179346.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
